Senin, 24 Februari 2014

Kisah Teller


"Orang hanya bisa memetik anggur dari pohon anggur, orang hanya bisa memetik buah kenari dari pohon kenari, namun kau bisa memetik cinta dimanapun, bahkan di tempat yg tak pernah kau kira. "

Kami ada di hari terakhir. Ya, kami harus mencairkan uang yg di nanti-nanti oleh orang tua kami. Beasiswa, sesuatu yg dinanti wujud nyatanya.

Aku, Fikri, dan Panji berangkat menuju tempat pencairan uang itu, menuju alamat yg telah tertulis di sebuah SMS, sebuah tempat di Kota Serang. Kami berangkat pagi sekali agar tidak ketingggalan kuliah, dan ku pikir ini akan jadi perjalanan yang sangat membosankan.

Sesampainya disana, kami hanya mendapat nomor antrian, dan petugas menyuruh kami datang kembali pukul 14.00. Ya, itu artinya kami mesti kembali ke Cilegon. Payah, umpat ku waktu itu.

Kami datang tepat waktu, dan menjalani kuliah yg membuatku bosan dan mengantuk. Pikiran ku masih melayang membayang rupiah yang sepertinya cukup untuk memenuhi keinginan ku. Ya, aku benar-benar tak sabar.

Selesai sholat Jum'at, kami kembali ke tempat yg dituju, yg tak lain hanya teller kecil, namun cukup untuk tempat tinggal keluarga berencana. Sesampainya disana kami bertemu petugas itu. Ia memberitahu satu hal yang menjengkelkan " nanti datang lagi jam 4 ya, dek", begitulh kata dia. Kami hanya bisa menunggu, dan tempat terbaik untuk menunggu adalah masjid kecil. Disana kami menungggu banyak hal, menungggu hujan reda, menungggu ashar,menunggu jam 4, menungggu kartu atm, dan menungggu uang itu cair. Kami mengisi formulir dari bank berisi data-data yang sudah tak asing lagi di mataku. Hanya ada beberapa data yang belum diisi, memang penting atau sekedar formalitas, pikir ku waktu itu. Sesekali ku memandang teman-temanku yang sibuk dengan ktp mereka, entah mereka saling pamer tempat kelahiran atau membandingkan siapa yg paling muda atau paling tua, aku tak peduli, aku sibuk dengan diriku.

Sudah jam 4, kami bergegas ke teller. Formulir hampir semua diisi, yang kosong bisa ditanyakan pada petugasnya. Kedatangan kami disambut 2 mahasiswi yang sepertinya kebingungan bagaimana mengisi formulir rekening dengan benar. Ku pikir suatu saat nanti, sebaiknya akan ku buat buku tentang 'cara mngisi formulir tanpa pusing tanya sana-sini'. Ia tampak tak peduli dengan keberadaan kami. Sempat terpikir seharusnya sesama penerima beasiswa mesti salng kenal. Ternyata ! Seorang diantaranya mendatangiku, mungkin mau kenalan. Namun, " boleh pinjem pulpen gk ? " begitu kata yg keluar dan yg terdengar, ya ku berikan pulpen ku, dia mulai melanjutkan mengisi formulir, lalu mengembalikan pulpen sambil mengucap kalimat mainstream "makasih ya". Ku jawab dgn kata yg mainstream pula " sama-sama" begitu yg terucap, namun tak cukup terdengar oleh mereka.

Datang lagi seorang wanita dgn motornya. Ku pikir dia seorang nasabah bank itu yang mau mentransfer uang ke orang tuanya yang sebulan lamanya menungggu kiriman anaknya. Tapi aku tak yakin. Ia pasti mahasiswi penerima beasiswa itu juga, dan makin kuat dugaan ku ketika ia membawa formulir yang sama dgn ku. Memang dilihat dia penampilannya ia habis kuliah. Cantik, memang. Namun, ah, apa sih yang ku pikirkan? begitu tanya ku dalam hati. Tapi, aku hanya menatapnya seolah tertarik ( memang aku tertarik ) dan ku kembalikan tatapan ku pada formulir ku. "Bro, gua nitip formulir dulu ya, gua ada perlu" kata Panji. Aku mengiyakan saja, ia pergi bersama Fikri. Aku pun sendiri, tak ada teman, diam menunggu mereka kembali. Lalu apa setelah mereka kembali? Mereka akan ngobrol dengan ku? Tidak ! Mereka tak peduli ! Aku bosan, aku sudah ada di titik jenuh, ibarat suatu besi yang di uji tensil yang menungggu ajalnya datang di breaking point. Pikiranku melayang, aku mau pulang, aku tak punya teman di antara sesama penerima beasiswa. Mereka semua asing di mataku.

Sejenak ku dengar obrolan seorang nasabah yang hampir tertipu oleh seseorang lewat telepon yg menyuruhnya mengisi data yg bisa membuat seluruh tabungannya raib. Untungnya ia telah menanyakan pada petugas perihal kejadian itu. Bukannya bersyukur, ia malah mengumpat " kurang ajar bener itu orang", ya begitulah manusia.

Ku tatap lagi formulir itu. Mereka tak jua datang. Aku gamang dalam kesendirian, aku memang sudah terbiasa dengan keadaan ini, tapi kali ini sangat menyebalkan. Disaat aku mulai merasa sangat bosan, terdengar seseorang bertanya padaku "dari teknik apa?", ku terkejut ( tapi tak ku ekspresikan ) ketika ku lihat yang bertanya adalah wanita dgn motornya itu. Jujur saja aku grogi,tapi ku pikir paling ini hanya percakapan kecil yang biasa ku lakukan di bus yg mudah berlalu begitu saja. Ku mulai bersikap biasa " teknik metalurgi, kamu?" jawab ku saat itu. kata 'kamu' ini sengaja ku sisip agar obrolan tetap berlanjut. Ternyata dia ada di Fakultas yang banyak dihuni oleh kawan-kawan SMA ku. Benar saja, obrolan ku terus berlanjut dengan pertanyaan klasik mahasiswa baru " lu kenal si fulan gk? " atau " lu sekelas sama si fulanah gk?" dan dia tahu teman-teman yang ku sebut namanya. Tawa pun mulai terdengar diantara kami.

Sempat ku katakan bahwa aku punya minat pada fakultas si wanita itu, aku berharap dia tidak berkata "gk nanya!", dan syukurlah dia tak berkata seperti itu. "Terus kenapa kamu ngambil fakultas teknik" begitulah ia bertanya. " ya, biasalah kehidupan " jawab ku singkat.Ku dengar dia tertawa kecil. Obrolan menjadi begitu menarik, dia bahkan mengajakku untuk datang ke kampus serang untuk nonton acara yg juga mengundang sebuah band musik. Tapi, aku terhalang oleh satu hal yang biasa dihadpi manusia teknik, laporan.

Sesaat kemudian, petugas menyuruh kami masuk dan mengantre. Seorang petugas lain meminta ku menunjukan formulirnya, " Panji ya? " begitu kata wanita itu padaku. Rasanya aku ingin tertawa terbahak-bahak mengetahui ia salah menyebut namaku, tapi aku selalu jaga image, tertawa secukupnya dan tertawa lepas saat sendirian di kosan. "oh, bukan Panji. Ini punya ane " ku tunjukan formulir ku yg berada di bawah formuir Panji. Ia melihat dengan seksama, dan mulai mengingat nama ku. Aku memang suka iseng, dan aku mulai iseng lagi melihat nama wanita itu, dan yang kutemui hanya nama depan saja, dengan nama belakang disembunyikan sebagai inisial kapital. Dulu, memang aku suka menulis nama dengan gaya seperti itu, tapi sekarang aku lebih suka namaku terpampang lengkap, dan nyata. Cetar ! ( apa yang sudah kukatakan ya? ).

Mereka datang lagi, Panji dan Fikri yang semula ku tungggu keberadaanya, kini tak begitu ku pedulikan. Fikri meminta formulirnya dan formulir Panji, dan mereka berdua maju mendahuluiku. Dengan sbar ku menungggu dan wanita itu pun juga menungggu. Mereka pun kemudian menuju lantai 2 untuk mengurus hal lain. Tiba datang giliran ku dan wanita itu. Aku hanya menatapnya, kami tak begitu berdekatan, tapi terpisah sekitar 1 meter ( kurang lebih, perlu teori ralat untuk keakuratan yang lebih baik). Setelah itu kami ke lantai 2 untuk mengurusi password.Kami membicarakan hal yang tak begitu penting, "Teknik itu keras, kecuali diriku " begitulah kataku waktu itu, hnya mengingatkan bahwa manusia teknik tidak semengerikan yng dibayangkan, dan takut dia menjauh hanya karena aku adalah mahasiswa teknik. Dia hanya tertawa. Dia rupanya telah berbicara dgn temen ku yg sefkultas dgn dia, lewat SMS, bahwa ia bertemu dengan ku. Ya semoga dia tak cerita hal yang aneh-aneh tentang ku kpada wanita itu. Setelah ku amati wanita ini seru juga untuk diajak ngobrol, orangnya asik, dan begitu akrab untuk ukuran sekedar perkenalan. Ia sempat meminta CP ku, dan ku berikan. Nampak ada harapan untuk bisa berkomunikasi terus. Tapi aku tak yakin. Pernah ku bertemu dgn mahasiswa dari kampus serang, pernah ku beri CP nya. Namun komunikasi tak berlanjut, dan mungkin dia sudah lupa padaku. Aku khawatir. Sebentar. Kenapa aku bisa sekhawatir ini? Jangan-jangan ya, atau jangan-jangan bukan. Tapi aku yakin ini............

"Bro, bruan balik ke cilegon" sahut Fikri pada ku. Aku tinggalkan wanita itu, dan ku bergegas keluar. Jujur saja ini pertemuan yang terlalu singkat. Kalau memang ini jadi pertemuan yg sesaat, izinkan aku bisa melihatnya sekali lagi. Aku mulai iseng mengutak-atik tali sepatu, seolah-olah ku sedang memperbaiki tali sepatu ku. Aku hanya ingin memperlambat tempo, agar bisa bertemu paling tidak sekali lagi. Namun tak juga muncul. Fikri dan Panji sudah menunggu. Aku mengalah. Ku terus berjalan dalam kebimbangan. Mereka mengajak ku mengobrol, dan aku hanya tertawa dan tersenyum..................palsu. Menyembunyikan apa yang dirasa oleh ku.

Kami sudah ada di seberang jalan. Sejenak ku melihat ke belakang ku, dan tak ku duga, ku lihat wanita itu !Ia sedang bergegas pulang dengan motornya, dan terkejutnya lagi ia melambai tangan pada ku! Aku pun tersenyum bahagia sekali. Tapi ku sembunyikan lagi di hadapan teman-teman ku. Ada asa untuk bisa kembali bertemu dan ada asa pula untuk memulai ..........................













Tidak ada komentar:

Posting Komentar